Bersekutu, Berkarya dan Bersaksi...
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Gereja. Tampilkan semua postingan

KETUA-KETUA SINODE YANG BERTUGAS 1935-SEKARANG

- Pdt J. E. Stap (1935-1938)
- Pdt G. Hamel (1938-1940)
- Pdt W. Van Oest (1940-1942)
- Pdt S. Marantika (1942-1946)
- Pdt A. Poot (1946-1947)
- Pdt J. Van Wick (1947-1948)
- Juriaanse (1948)
- Pdt dr. Ch. C. Geissler (1948-1949)
- Pdt S. Marantika (1949-1953)
- Pdt Chr. MAtaheru (1953-1957)
- Pdt F. H. De fretes (1957-1961)
- Pdt Th. P. Pattiasina (1961-1976)
- Pdt. Dr. A. N (1978-1987)
- Pdt A. J. Soplantila (1987-1995)
- Pdt S. P. Titaley (1995-2000)
- Pdt I. W. J. Hendriks (2000-2005)
- Pdt. J. Ch. Ruhulessin (2005-2015)
Baca selengkapnya GIAFIDRISA: Sejarah Gereja

Nama-nama Klasis di GPM

- Ternate
- Bacan
- Pp Sula
- Pp Obi
- Buru Utara
- Buru Selatan
- Seram Utara
- Taniwel
- Seram Barat
- Kairatu
- Masohi
- Teluti
- Seram timur
- Lease
- Kota Ambon
- Pulau Ambon
- Banda
- Kei Kecil
- Kei Besar
- Pp Aru
- Tanimbar Utara
- Tanimbar Selatan
- Barbar
- Pp Kisar
- Lemola (Leti, moa, lakor) Baca selengkapnya GIAFIDRISA: Sejarah Gereja

SEJARAH BERDIRINYA GEREJA PROTESTAN MALUKU

Gereja Protestan Maluku adalah gereja yang berasal dari “indische kerk” atau gereja Protestan Indonesia. Indische kerk adalah gereja yang dibangun oleh VOC sejak tahun 1602-1800. Pada masa itu semua biaya pelayanan yang dibutuhkan gereja menyangkut pembangunan, penerbitan bacaan serta pembiayaan gaji para pendeta dan “penghibur orang sakit” di bayar oleh VOC. Semua itu dilakukan VOC karena ia adalah penguasa Kristen sehingga gereja hindia Belanda di sebut “gereja negara”. Mengikuti gereja induknya di Belanda, maka gereja yang dibentuk oleh VOC di Maluku bercorak calvinisme. Saat itu gereja di Maluku belum mandiri lepas dari pemerintah VOC.
Selama hampir dua setengah abad, Gereja di Maluku mengalami proses perkembangan dengan pembagian sebagai berikut:
1. Tahun 1540-1605, usaha misi portogis serta pengkristenan yang pertama
2. Tahun 1605-1815, gereja di Maluku dibawa pemerintahan VOC samapi 1800-an dan jangkah pendek yang berikutnya di bawah pemeliharan pekabaran Inggris (1814-1817)
3. Tahun 1815-1864, hidupnya kembali gereja di Maluku oleh usaha pekabaran injil NZG dalam kerjasamanya dengan gereja protestan.
4. Tahun 1864-1935, gereja di maluku di bawah pimpinan gereja protestan serta perkembangannya.
Pada rapat GPI tahun 1933 di Jakarta ditetapkan pemisahan GPI dari negarasecara administrasi tetapi perpisahan secara keuangan masih ditangguhkan. Sebelum rapat tersebut pada tanggal 19 mei 1933 di Maluku telah dibentuk badan sinode dan mengadahkan sidang pada tanggal 24-27 Maret 1933 yang membicarakan tetang:
- Nama Gereja Maluku-Gereja Maluku Injili (GMIA)
- Tata gereja GMIA
Proto Sinode yang ke dua berlangsung pada tanggal 7 Desember 1933 yang membicarakan:
- Usul problem tata gereja
- Usul problem nama GMIA menjadi GPM
- Membicarakan surat terbuka AMK (autonome Maluksche kerk) dan komite ummum menyangkut bentuk dan tata gereja
Hingga sidang proto terakhir 5 september 1935 yang membicarakan tentang:
- Penyerahan kepemimpinan kependetaan GPI Resort Amboina kepada pemimpin Badan Pekerja Sinode GPM
- Diterima dan diberlakukan tata gereja GPM yang sudah disahkan oleh GPI
- Acara upacara pelantikan GPM tanggal 6 September 1935
- Acara persidangan sinode pertama pada tanggal 7 september 1935

Setelah berdiri pada tanggal 6 september 1935maka pengesahannya dilakukan pada tahun 1936, bersama-sama dengan tata gereja.
Ketua Sinode GPM yang pertama adalah Pdt J. E. Stap dan Wakil ketua Pdt Tutuarima.
Struktur Badan Pekerja Sinode pada saat itu beranggota 10 orang, 7 diantaranya pendeta.
Dibentuklah 7 klasis yaitu: Ambon, Lease, Seram Barat, Seram Timur, Banda, dan Tarnate serta Ambon Kota.
Selain itu terdapat wilayah yang merupakan bagian dari GPM yaitu: Pulau Aru, Pulau Kei, Pulau Tanimbar, Barbar, Kisar, dan Irian Barat. Selanjutnya kelima wilayah ini menjadi klasis sedangkan Irian barat menjadi sinode tersendiri
Selama kurun waktu 1935-1942 baik pendeta, ketua resort kepemimpinan maupun ketua sinode GPM berasal dari gereja di Belanda karena pendidikan mereka dan karena mereka di angkat oleh GPI. Pada tahun 1942, setelah Jepang menduduki Indonesia, ketua Sinode di tawan karena berkebangsaan Belanda, maka Badan Pekerja Sinode yang berkebangsaan Indonesia mengambil alih kepemimpinan gereja sampai terpilihnya ketua Sinode Pertma orang Indonesia di zamn Jepang yaitu : Pdt s Marantika.
Seakarang GPM mempunyai 754 Jemaat
Baca selengkapnya GIAFIDRISA: Sejarah Gereja

Anggota-Anggota PGI

HKBP, BNKP, GBKP, GMI, GKE, GMIST, GMIM, GMIBM, GKST, GT, GTM, GKSS, GEPSULTRA, GMIH, GKI , Papua, GPM, GMIT, GKS, KPB, GKJW, GKI, GITJ, GKJ, GKP, GK, GPIB, GPI, GPIB, GIA , GKMI, GKPS, GKPI, GBIS, GPPS, HKI, GKLB, GKT, GPID, GPKB, GPIG, GKJTU, GKKB, GGP, GKPI, GPIBT, GKPM, GKI SUMUT, GKPA, KGPM, GAMIN, GKA, GPIL, GKKA, GKKK, GKSBS, GPKBP, GBI, GKII, GEMINDO, GEKISIA, GKLI, GPP, GKSI, GTdI, GKPB, AFY, GR, GPI Papua, GKPPD, GEKINDO, GKSB, GKO, GSI, GUPDI, GPIBK, GERMITA, GKA, GKRI, GSJA, GKY, GKPII, GKII, GPSI, GKSI, KGMPI. Baca selengkapnya GIAFIDRISA: Sejarah Gereja

CALVINISME yang dianut GPM

Sekilas tentang Johannes Calvin

Awal Kemunculannya
Calvinis adalah nama yang dikenakan pada gereja-gereja penganut ajaran Johannes Calvin, sang Reformator Gereja. Sulit ditentukan dengan pasti kapan awal kemunculan aliran Calvinis ini. Sebab hingga aliran ini diberi nama Calvinis, prosesnya cukup panjang dan rumit pula. Jika kita mengacu pada “pembakuan” ajaran Calvin, tahun 1536 dapat disebut sebagai awal kemunculan aliran Calvinis. Sebab pada tahun tersebut muncul suatu karya besar dari Calvin sendiri yang berjudul Relegious Christianae Institutio, disingkat Institutio. Kitab inilah yang di kemudian hari menjadi ciri dan sekaligus pusat teologi Calvinis. Tetapi jika kita mengacu pada kelembagaan/organisasi, tahun 1559 dapat disebut pula sebagai awal kemunculan aliran Calvinis. Sebab pada tahun tersebut Sidang Sinode pertama para pengikut Calvin diadakan di Perancis. Aliran Calvinis ini pertama kali bertumbuh dan berkembang di Swiss dan Perancis. Tetapi perkembangan pesat aliran ini justru terjadi di Belanda. Perlu dicatat bahwa berbeda dengan Gereja Lutheran, tidak ada satu pun gereja pengikut Calvin yang menamakan dirinya Gereja Calvinis. Pada umumnya mereka menamakan diri Gereja Reformed. Ada pula yang menamakan diri Gereja Presbyterian, dan ada pula yang menamakan diri Gereja Congregational.

Pokok-pokok Penting Ajarannya
- Kedaulatan dan Kemuliaan Allah. Pokok ajaran/teologi Calvin adalah Kedaulatan dan Kemuliaan Allah. Kedaulatan Allah terutama tampak dalam perkara penciptaan dan keselamatan. Sedangkan mengenai Kemuliaan Allah, Calvin menegaskan bahwa Allah menciptakan dunia dan manusia demi untuk kemuliaanNya. Karena itu segala yang terjadi di dunia ini dan segala yang dikerjakan manusia mestinya bertujuan memuliakan Dia.
- Alkitab. Calvin sangat menekankan otoritas Alkitab sebagai satu-satunya sumber ajaran gereja yang benar (sola scriptura). Selanjutnya, ia memberi penekanan khusus pada aspek pedagogis (juga kognitif) dari Alkitab, dan ini sangat tercermin dalam karya utamanya Institutio. Menurut Calvin, yang harus dicari dalam Alkitab adalah pengetahuan tentang Allah, dan pengetahuan itu hanya dapat ditemukan di dalam Yesus Kristus. Kristus-lah kunci memahami Alkitab, baik Perjanjian Lama yang mengandung banyak janji tentang Dia, maupun Perjanjian Baru yang mengemukakan penggenapan janji-janji itu. Dalam kerangka itu, maka membaca dan memahami Alkitab secara harafiah saja tidak cukup, melainkan harus diselidiki sedalam-dalamnya, sambil mengingat bahwa penelitian itu harus berpusat pada Kristus yang adalah pusat Alkitab.
- Keselamatan. Calvin sangat menekankan keyakinan bahwa keselamatan diperoleh hanya karena kasih karunia melalui iman (sola gratia dan sola fide). Selanjutnya, Calvin mengembangkan ajaran tentang keselamatan ini dalam suatu wawasan yang dikenal dengan istilah “predestinasi.” Secara sederhana predestinasi berarti bahwa jumlah dan jati diri dari orang-orang yang terpilih, yakni mereka yang diselamatkan sudah ditetapkan Allah yang berdaulat sebelum dunia diciptakan. Tentang hal ini muncul berbagai tanggapan. Perhatikanlah bagaimana Jacobus Arminius menanggapi wawasan “predestinasi” Calvin dan perbedaan antara keduanya :
Calvinisme dan Arminianisme adalah dua sistim teologi yang berupaya menjelaskan hubungan antara kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia dalam kaitannya dengan keselamatan. Calvinisme dinamai menurut John Calvin, teolog Perancis yang hidup dari tahun 1509 – 1564. Arminianisme dinamai menurut Jacobus Arminius, teolog Belanda yang hidup dari tahun 1560 – 1609.
 Calvinisme berpegang pada kejatuhan total sementara Arminianisme berpegang pada kejatuhan sebagian. Kejatuhan total mengatakan bahwa semua aspek kemanusiaan sudah dikotori oleh dosa, karena itu manusia tidak dapat datang kepada Tuhan dengan kemauannya sendiri. Kejatuhan sebagian mengatakan bahwa setiap aspek kemanusiaan dikotori oleh dosa, tapi tidak sampai pada taraf di mana manusia tidak dapat beriman pada Tuhan dengan kehendaknya sendiri
 Calvinisme berpegang pada pemilihan yang tanpa syarat sementara Arminianisme berpegang pada pemilihan bersyarat. Pemilihan tanpa syarat percaya bahwa Allah memilih orang-orang yang diselamatkan berdasarkan kehendakNya semata-mata, bukan berdasarkan apa yang ada pada individu-individu. Pemilihan bersyarat percaya bahwa Allah memilih invididu-individu untuk diselamatkan berdasarkan pengetahuan Allah mengenai siapa yang akan menerima Yesus sebagai Juruselamat.
 Calvinisme berpegang pada penebusan yang terbatas sementara Arminianisme percaya pada penebusan yang tidak terbatas. (Dari ke lima poin, ini adalah yang paling kontroversial). Penebusan terbatas adalah kepercayaan bahwa kematian Yesus hanyalah bagi umat pilihan. Penebusan tak terbatas percaya bahwa Yesus mati bagi semua orang, namun kematiannya tidak akan efektif sampai orang yang bersangkutan percaya
 Calvinisme berpegang pada anugrah yang tak dapat ditolak sementara Arminianisme berpegang pada anugrah yang dapat ditolak. Anugrah yang tidak dapat ditolak mengatakan bahwa ketika Tuhan memanggil orang untuk diselamatkan, pada akhirnya orang tsb akan datang kepada keselamatan. Anugrah yang dapat ditolak mengatakan bahwa Tuhan memanggil semua orang kepada keselamatan, namun banyak orang bersikeras dan menolak panggilan ini.
 Calvisnisme berpegang pada ketekunan orang-orang kudus, sementara Arminianisme berpegang pada keselamatan yang bersyarat. Ketekunan orang-orang kudus merujuk pada konsep bahwa seseorang yang telah dipilih Allah akan bertahan dalam imannya dan tidak akan pernah menolak Kristus atau berbalik daripadaNya. Keselamatan yang bersyarat adalah pandangan bahwa seseorang yang percaya pada Kristus, dapat, dengan kehendak bebasnya, berbalik dari Kristus dan karena itu kehilangan keselamatan.
(Catatan : Ada orang-orang Calvinis lima poin dan Arminian lima poin, dan pada saat yang sama ada orang-orang tiga poin Calvinis dan dua poin Arminian. Banyak orang percaya yang percaya pada semacam perpaduan antara kedua pandangan tersebut.)
- Hakikat Gereja. Gereja adalah persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan di dalam Yesus telah dibenarkan kendati tetap merupakan manusia berdosa, yang kesemuanya disambut dan diterima manusia melalui iman. Gereja adalah tempat yang bisa ditemukan di mana saja, asalkan di sana Firman atau injil yang murni diberitakan dan sakramen yang murni dilayankan (Baptisan dan Perjamuan Kudus).
- Tata Gereja dan Jabatan. Menurut Calvin, di dalam gereja ada empat jabatan, yakni: gembala/pendeta, pengajar, penatua, dan syamas/diaken. Khusus mengenai “pengajar”, jabatan ini mencakup semua fungsionaris gereja yang terlibat dalam tugas pengajaran yang berhubungan dengan iman kristiani, mulai dari guru agama (di sekolah), guru katekisasi, sampai dengan dosen-dosen teologi. Sedangkan mengenai Tata Gereja, gereja-gereja beraliran Calvinis pada umumnya menganut sistem Presbyterial-Synodal. Sistem ini disebut Presbyterial-Synodal oleh karena semua keputusan jemaat diambil pada tingkat presbyterium (majelis para penatua, termasuk pendeta sebagai presbyter yang berkhotbah dan mengajar), sedangkan perkara-perkara yang menyangkut kepentingan seluruh gereja diputuskan pada tingkat sinode, yang dalam hal ini diwakili oleh wakil-wakil presbyterium dari setiap jemaat.
- Disiplin Gereja. Disiplin gereja yang disusun Calvin pertama-tama dimaksudkan untuk diberlakukan di Jenewa. Belum terpikirkan olehnya untuk menyusun disiplin bagi gereja sedunia. Disiplin gereja yang disusun Calvin bertujuan untuk menjaga kesucian gereja. Jadi, kesucian gereja, bagi Calvin, tidak terletak pada manusianya, melainkan pada Allah yang menetapkan kehadiran gereja itu dan mengaruniakan pengampunan dan keselamatan melalui gerejaNya. Di samping itu, disiplin gereja juga bertujuan untuk melindungi orang-orang baik di dalam gereja, supaya akhlak mereka tidak dirusak oleh pergaulan dengan orang-orang jahat; di lain pihak orang-orang jahat itu harus didorong untuk bertobat, melalui teguran dan hukuman. Disiplin gereja berkaitan erat dengan pengudusan (sanctificatio) dan pembenaran orang berdosa (justificatio) oleh Allah yang harus dijawab dengan kehidupan yang penuh ketaatan pada kehendak Allah sebagai ungkapan syukur atas kasih karunia yang telah diberiNya. Tentang penegakan disiplin gereja ini dipercayakan kepada majelis jemaat sebagai kesatuan.
- Tata Ibadah. Bagi Calvin, tata ibadah bukan hanya merupakan soal praktis dan incidental, yang bisa disusun dan diselenggarakan menurut selera dan suasana sesaat (seperti yang sering terjadi di berbagai gereja termasuk yang mengaku Calvinis). Baginya, ibadah dan tata ibadah merupakan satu kesatuan dengan pokok-pokok ajaran mendasar yang telah diulas sebelumnya. Ibadah dalam gereja-gereja Calvinis berpusat pada pemberitaan Firman (khotbah) dan perayaan Perjamuan Kudus.
Khotbah. Menurut Calvin idealnya khotbah merupakan kombinasi dari uraian isi Alkitab dan penjelasan pokok-pokok pemahaman iman atau ajaran gereja tentang kebenaran yang dianut gereja. Dengan begitu maka khotbah juga mempunyai fungsi pengajaran.
Nyanyian. Selama berabad-abad nyanyian hanya terbatas pada Mazmur, karena menurut Calvin Mazmur adalah nyanyian yang paling layak untuk memuji Allah karena terdapat dalam Alkitab dan dengan demikian merupakan ciptaan Roh Kudus. Ada macam-macam versi nyanyian Mazmur yang diciptakan di lingkungan gereja-gereja Calvinis. Sekarang ini sudah banyak nyanyian-nyanyian gereja yang baru yang disusun oleh gereja-gereja setempat.
Baptisan. Baptisan yang dilayankan dalam ibadah jemaat mengikuti tradisi dari abad-abad pertama yang memberlakukan baptisan anak atau bayi. Baptisan merupakan tanda pengampunan dan hidup baru. Baptisan menandakan bahwa manusia telah ikut serta dalam kematian dan kebangkitan Kristus dan sekaligus merupakan tanda bahwa mereka yang dibaptis telah masuk ke dalam persekutuan gereja (keanggotaan gereja). Menurut Calvin, baptisan bukan syarat memperoleh keselamatan, melainkan materai yang menandakan bahwa seseorang telah memperoleh pengampunan dosa dan keselamatan pada salib Kristus. Pengampunan itu telah dikaruniakan Allah pada manusia sebelum dilahirkan, sehingga tidak ditentukan oleh Baptisan.
Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus adalah tanda yang ditetapkan Allah melalui anakNya Yesus Kristus, supaya melalui roti dan anggur itu orang-orang beriman dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus. Kerena kelemahan manusia, maka tanda itu mutlak ditambahkan kepada firman yang diberitakan, karena persatuan dengan Kristus hanya dapat dimengerti orang percaya kalau diperagakan dalam upacara makan roti dan minum anggur. Jadi menurut Calvin, Perjamuan Kudus lebih daripada sekadar peringatan kematian Kristus di kayu salib. Perjamuan Kudus menambahkan sesuatu kepada iman orang percaya dan kepada apa yang disampaikan dalam pemberitaan Firman. Tentang cara kehadiran Kristus dalam Perjamuan Kudus, Calvin menolak paham transsubstansiasi dari GKR bahwa pada saat rumusan perjamuan diucapkan imam maka roti dan anggur seketika berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Bagi Calvin, kehadiran Kristus dalam perjamuan itu hanyalah secara rohani dan dipahami dalam iman. Ketika Perjamuan Kudus dilayankan, tubuh Kristus tetap berada di surga, tetapi Roh-Nya memenuhi roti dan anggur sehingga peserta perjamuan yang beriman menerima Kristus secara rohani. Pemahaman Calvin atas Perjamuan Kudus ini berdampak pada pemahamannya tentang kehadiran Kristus. Calvin memahami bahwa Kristus tdak hanya hadir di alam sacramental dan di dalam ibadah gereja, melainkan hadir di dunia nyata, di dalam segala segi dan bidang kehidupan manusia. Dengan kata lain, manusia harus hidup dan berkarya di dunia nyata, dunia yang sekular.

- Gereja dan Dunia serta Hubungan Gereja dengan Negara. Calvin memandang dunia dan seluruh bidang kehidupan di dalamnya sebagai theatron gloria Dei (panggung kemuliaan Allah). Oleh karena itu, pandangan ini menjadi daya dorong yang kuat bagi keterlibatan orang percaya dalam dunia sekular, di bidangnya masing-masing dan karena itu berkonsekuensi pada pertumbuhan ekonomi di kalangan orang-orang Protestan Eropa Barat pada abad-abad ke-16 dan seterusnya. Tentang hubungan gereja dengan Negara, Calvin mengaskan bahwa gereja dan negara adalah alat di tangan Tuhan, sesuai dengan wawasan dua pedang dan cita-cita teokrasi. Menurut Calvin, Allah menjadi penguasa tertinggi, baik di dalam gereja maupun negara. Selanjutnya, Tuhan Allah memberi ‘pedang’ yang satu kepada gereja (pedang rohani) dan lainnya kepada negara (pedang jasmani). Keduanya berdampingan, sama-sama bertugas melaksanakan kehendak Allah dan mempertahankan kehormatan-Nya. Namun secara asasi, pemerintah negara tidak boleh mencampuri urusan-urusan gereja, termasuk dalam hal organisasi, peribadahan, upacara-upacara dan penetapan jabatan gerejawi.

Baca selengkapnya GIAFIDRISA: Sejarah Gereja

GEREJA PROTESTAN MALUKU

Sitem Pemerintahan Gereja yang dianut adalah Presbiterial (Presbiter=Penatua).
Secara umum dapat dikatakan :
Sistem Tata Gereja yang meletakkan pemerintahan gereja dalam tangan penatua.
(van den End, Th – Harta dalam Bejana).

SISTEM PEMERINTAHAN GEREJA
Organisasi presbiterial berarti bahwa Gereja diperintah oleh badan-badan yang dipilih oleh Jemaat sendiri selaku wakilnya, jadi dari bawah ke atas; lawananya Episkopal.
(enklaar - Sejarah Gereja).
SINODE
Berasal dari bahasa Yunani:
Sun : bersama-sama
Hodos : jalan
Sinode : berjalan bersama-sama.
Istilah ini dipergunakan untuk suatu sidang gerejawi yang dihadiri oleh semua bagian dalam suatu gereja.

SIDANG SINODE
SIDANG BPL SINODE
BPH SINODE

 Presbiterianisme adalah salah satu bentuk pemerintahan gereja di mana kekuasaan yang tertinggi berada dalam tangan para penatua.
 Di dalam gereja-gereja yang memakai bentuk pemerintahan gereja ini terdapat badan-badan yang hierarkhis yaitu jemaat-jemaat setempat yang terdiri dari pendeta dan penatua; klasis yang terdiri dari pendeta-pendeta dan penatua-penatua yang mewakili jemaat-jemaat dalam wilayah Klasis, dan sinode atau sidang raya yang merupakan badan tertinggi yang mempunyai hak legislatif. Sinode terdiri dari pendeta-pendeta dan penatua-penatua yang diutus oleh Klasis.
 Gereja Presbiterian mengikuti teologi Calvinis. Ibadah mereka sederhana, teratur, hikmat, dengan tekanan utama pada mendengar dan mengajarkan Firman Allah.
 Luther adalah pelopor Reformasi, tetapi di samping dia, ada juga yang melakukan pembaharuan seperti Zwingli, dan yang paling mempengaruhi gerakan Reformasi ialah Calvin. Banyak gereja Protestan, di Indonesia juga, yang dalam ajaran dan tata gerejanya tetap mengikuti pedoman Calvin.
 Johanes Calvin adalah seorang sarjana Hukum Perancis yang berminat pada ilmu teologi. Karena ia menjadi seorang pengikut Luther, ia diusir dari tanah airnya dan menjadi pendeta kota Jenewa (Swiss).
 Cita-cita Theokrasi = kekuasaan Allah atas seluruh kehidupan). Calvin juga menjaga kehidupan anggota-anggota jemaat. Ia sependapat dengan Luther dalam hal pembenaran oleh iman.
 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”. Efesus 2:8-9
 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. (Roma 8:30)
 Alkitab dipandang sebagai aturan bagi iman. Alkitab cukup berisikan segala yang perlu untuk mengenal Allah dan tugas-tugas orang percaya terhadap Allah dan sesama manusia. Kewibawan Alkitab terjamin oleh pekerjaan Roh Kudus.
 Pembenaran dan Predestinasi
Keyakinan bahwa hal kita percaya atau tidak percaya
itu semata-mata akibat dari takdir Allah yang kekal.
Ada dua jenis manusia : yang menerima Firman rahmat Tuhan dan yang menolaknya.
Di belakang keputusan manusia itu terdapatlah keputusan Allah sendiri,
yang memilih atau membuang.




 PERJAMUAN KUDUS
Roti dan Anggur adalah merupakan lambang tubuh dan darah Kristus. Berbeda dengan Luther yang melihat.
 Mengeluarkan peraturan-peraturan gereja. Dalam tata gereja itu ditentukan 4 Jabatan
Pendeta (predikan) untuk Khotbah dan Disiplin, Pengajar (doktor) untuk katekisasi dan pengajaran teologia, Penatua untuk disiplin, Syamas (diaken) untuk pelayanan terhadap orang miskin.
Pendeta-pendeta dan penatua-penatua bersama-sama merupakan “konsistori”, yaitu majelis gereja yang memimpin gereja dan yang menjalankan disiplin.
• Negara harus mengawasi tingkah laku warganya juga, dan bekerja sama dalam gereja.teokrasi tidak berarti bahwa negara berada di bawah gereja. Keduanya berdampingan, sama-sama bertugas melaksanakan kehendak Allah dan mempertahankan kehormatan-Nya. Namun secara asasi, pememerintah negara tidak boleh mencampuri urusan-urusan gereja
 Tata ibadah Calvin masih tetap dipakai di dlam kebanyakam gereja-gereja Indonesia. Pengakuan Dosa, disusul Pemberitaan Anugerah, dan Pembacaan Kesepuluh Hukum, lalu Khotbah diberikan, jemaat sekali-kali menjawab dengan nyanyian Mazmur.
 Calvin mau meniadakan segala sesuatu yang tidak diperintahkan dalam Firman Allah (lilin-lilin, pakaian khusus pendeta, altar, patung-patung, salib dan sebagainya) bagi Luther boleh dipertahankan.
Bagi Luther Kesepuluh Hukum menjadi sumber pengetahuan kita tentang besar dan beratnya dosa-dosa kita. Padahal, Calvin memandangnya selaku peraturan dan penuntun bagi hidup baru dalam iman, yang memimpin orang percaya ke jalan penyesalan dan pertobatan
CALVINISME VS ARMINIANISME
Calvinisme dan Arminianisme adalah dua sistim teologia yang berupaya menjelaskan hubungan antara kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia dalam kaitannya dengan keselamatan.
Calvinisme dinamai menurut John Calvin, teolog Perancis yang hidup dari tahun 1509 – 1564. Arminianisme dinamai menurut Jacobus Arminius, teolog Belanda yang hidup dari tahun 1560 – 1609.
 Calvinisme berpegang pada kejatuhan total sementara Arminianisme berpegang pada kejatuhan sebagian.
 Kejatuhan total mengatakan bahwa semua aspek kemanusiaan sudah dikotori oleh dosa, karena itu manusia tidak dapat datang kepada Tuhan dengan kemauannya sendiri.
 Kejatuhan sebagian mengatakan bahwa setiap aspek kemanusiaan dikotori oleh dosa, tapi tidak sampai pada taraf di mana manusia tidak dapat beriman pada Tuhan dengan kehendaknya sendiri
 Calvinisme berpegang pada pemilihan yang tanpa syarat sementara Arminianisme berpegang pada pemilihan bersyarat. Pemilihan tanpa syarat percaya bahwa Allah memilih orang-orang yang diselamatkan berdasarkan kehendakNya semata-mata, bukan berdasarkan apa yang ada pada individu-individu. Pemilihan bersyarat percaya bahwa Allah memilih invididu-individu untuk diselamatkan berdasarkan pengetahuan Allah mengenai siapa yang akan menerima Yesus sebagai Juruselamat.
 Calvinisme berpegang pada penebusan yang terbatas sementara Arminianisme percaya pada penebusan yang tidak terbatas.
(Dari ke lima poin, ini adalah yang paling kontroversial).
Penebusan terbatas adalah kepercayaan bahwa kematian Yesus hanyalah bagi umat pilihan.
Penebusan tak terbatas percaya bahwa Yesus mati bagi semua orang, namun kematiannya tidak akan efektif sampai orang yang bersangkutan percaya
Penebusan tak terbatas percaya bahwa Yesus mati bagi semua orang, namun kematiannya tidak akan efektif sampai orang yang bersangkutan percaya.
Jadi, dalam perdebatan Calvinisme vs Arminianisme, mana yang benar?
Adalah menarik untuk dicatat bahwa dalam keanekaragaman tubuh Kristus ada berbagai perpaduan antara Calvinisme dan Arminianisme.
Ada orang-orang Calvinist lima poin dan Arminian lima poin, dan pada saat yang sama ada orang-orang tiga poin Calvinis dan dua poin Arminian. Banyak orang percaya yang percaya pada semacam perpaduan antara kedua pandangan tersebut.
 Pada akhirnya, kedua sistim ini tidak mampu menjelaskan hal yang tidak pernah dapat dijelaskan. Umat manusia tidak pernah dapat secara penuh memahami konsep semacam ini.
Benar, Allah berdaulat mutlak dan tahu segalanya. Benar, umat manusia dipanggil untuk mengambil keputusan untuk secara tulus percaya pada Kristus untuk mendapat keselamatan. Walau kedua hal ini terkesan bertolak belakang bagi kita, dalam pikiran Tuhan, keduanya masuk akal.
Baca selengkapnya GIAFIDRISA: Sejarah Gereja

RUMPUN PROTESTAN DAN ALIRAN-ALIRAN GEREJA DI DALAMNYA Catatan Ringkas Berdasarkan Buku Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja

S
ejarah gereja mencatat bahwa hingga dewasa ini terdapat tiga “rumpun gereja” yang besar, yakni Gereja Ortodoks, Gereja Katolik Roma, dan Gereja Protestan. Berbeda dengan rumpun Ortodoks dan rumpun Katolik Roma yang tetap solid, rumpun Protestan adalah rumpun yang dalam perjalanan sejarahnya paling sering terpecah belah. Dari rumpun protestan ini bermunculan berbagai gereja dengan coraknya masing-masing, yang dalam tulisan ini disebut sebagai “aliran-aliran gereja”. Dewasa ini terdapat kurang lebih 13 aliran gereja yang muncul dari rumpun Protestan. Namun, tulisan ini hanya mengulas secara singkat 9 aliran gereja Protestan yang berkembang di Indonesia.

ALIRAN-ALIRAN GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA

1. LUTHERAN
Awal kemunculannya

L
utheran adalah sebuah nama yang diberikan kepada para pengikut Martin Luther, sang Reformator Gereja. Sulit ditentukan dengan pasti kapan aliran ini mulai muncul. Sebab hingga aliran ini diberi nama Lutheran, ia melalui proses yang cukup panjang dan rumit. Tetapi jika mengacu pada proses “pembakuan” ajaran Lutheran, tahun 1530 dapat kita sebut sebagai awal kemunculan aliran Lutheran. Sebab pada tahun tersebut untuk pertama kali terbit sebuah dokumen yang berisikan ajaran Martin Luther. Dokumen ini dikenal dengan nama Konfesi Augsburg, dan disusun oleh para teolog pengikut Luther, terutama Philip Melanchton. Di kemudian hari muncul pula dokumen-dokumen lain yang berisikan ajaran-ajaran Martin Luther. Dokumen-dokumen tersebut pada gilirannya dihimpun dalam sebuah kitab yang diberi nama Kitab Konkord, yang diterbitkan pada 25 Juni 1580. Kitab inilah yang menjadi semacam kanon (patokan ajaran) bagi gereja-gereja Lutheran, yang sejak akhir abad ke-16 sudah semakin menjelma menjadi gereja yang mapan.
Pokok-pokok Penting Ajarannya
- Firman dan Sakramen adalah kata-kata kunci dalam kehidupan gereja-gereja Lutheran dan merupakan pusat ajaran Luther. “Firman” semata-mata mengacu pada Alkitab sebagaimana dinyatakan lewat semboyan sola scriptura. Sedangkan “Sakramen” mengacu pada penghargaan tinggi atas kedua sakramen: Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Bagi Luther sakramen adalah Firman yang kelihatan, atau diperagakan
- Jabatan dan Tata Gereja. Berdasarkan penelitian atas Alkitab, antara lain surat Ibrani dan I Petrus, Luther melihat bahwa secara hakiki tidak ada pemisahan antara kaum klerus dan awam ataupun hierarki atau penjenjangan di antara jabatan-jabatan gerejawi. Berdasarkan imamat dan pengorbanan Kristus, semua orang percaya adalah imam. Inilah yang disebut Luther (bersama para reformator lainnya) Imamat Am Semua Orang Percaya.
- Tata Ibadah. Suasana dan liturgi dalam ibadah di gereja-gereja Lutheran tidak banyak berbeda dari Gereja Katolik Roma. Bagi Luther(an) yang terpenting dalam ibadah adalah, bagaimana agar jemaat mengalami dengan nyata tindakan penyelamatan Allah di dalam Kristus, dan itu hanya bisa dialamai bila kepada mereka Firman diberitakan dengan murni dan dalam bahasa yang dapat dimengerti jemaat, dan sakramen dilayankan dengan benar. Dalam setiap ibadah Minggu harus ada pemberitaan Firman yang murni (semata-mata dari Alkitab). Sedangkan Perjamuan Kudus tidak mesti diselenggarakan pada setiap ibadah Minggu.

Jalan Masuk dan Perkembangannya di Indonesia
Gereja/aliran Lutheran pertama kali masuk ke Indonesia bersamaan dengan datangnya orang-orang Belanda/VOC, yakni pada permulaan abad ke-17. Di antara para pegawai VOC ada orang-orang yang beraliran Lutheran (kendati sangat sedikit), dan mereka inilah yang pertama kali mendirikan Gereja Lutheran di Indonesia. Di kemudian hari aliran ini masuk dengan lebih deras lagi ke Indonesia bersamaan dengan masuknya para penginjil Rheinische Missions-gesellschaf (RMG), secara khusus di Sumatera Utara mulai tahun 1861. Di Indonesia dewasa ini ada sekurang-kurangnya delapan organisasi gereja yang mengaku sebagai penganut paham atau termasuk aliran Lutheran, yaitu: HKBP, GKPS, GPKB, GKPI, HKI, GKLI, GKPA dan GKPM; semuanya (kecuali GPKB) berkantor pusat di Sumatera Utara dan sekitarnya.

2. CALVINIS
Awal Kemunculannya

C
alvinis adalah nama yang dikenakan pada gereja-gereja penganut ajaran Johannes Calvin, sang Reformator Gereja. Sulit ditentukan dengan pasti kapan awal kemunculan aliran Calvinis ini. Sebab hingga aliran ini diberi nama Calvinis, prosesnya cukup panjang dan rumit pula. Jika kita mengacu pada “pembakuan” ajaran Calvin, tahun 1536 dapat disebut sebagai awal kemunculan aliran Calvinis. Sebab pada tahun tersebut muncul suatu karya besar dari Calvin sendiri yang berjudul Relegious Christianae Institutio, disingkat Institutio. Kitab inilah yang di kemudian hari menjadi ciri dan sekaligus pusat teologi Calvinis. Tetapi jika kita mengacu pada kelembagaan/organisasi, tahun 1559 dapat disebut pula sebagai awal kemunculan aliran Calvinis. Sebab pada tahun tersebut Sidang Sinode pertama para pengikut Calvin diadakan di Perancis. Aliran Calvinis ini pertama kali bertumbuh dan berkembang di Swiss dan Perancis. Tetapi perkembangan pesat aliran ini justru terjadi di Belanda. Perlu dicatat bahwa berbeda dengan Gereja Lutheran, tidak ada satu pun gereja pengikut Calvin yang menamakan dirinya Gereja Calvinis. Pada umumnya mereka menamakan diri Gereja Reformed. Ada pula yang menamakan diri Gereja Presbyterian, dan ada pula yang menamakan diri Gereja Congregational.
Pokok-pokok Penting Ajarannya
- Kedaulatan dan Kemuliaan Allah. Pokok ajaran/teologi Calvin adalah Kedaulatan dan Kemuliaan Allah. Kedaulatan Allah terutama tampak dalam perkara penciptaan dan keselamatan. Sedangkan mengenai Kemuliaan Allah, Calvin menegaskan bahwa Allah menciptakan dunia dan manusia demi untuk kemuliaanNya. Karena itu segala yang terjadi di dunia ini dan segala yang dikerjakan manusia mestinya bertujuan memuliakan Dia.
- Hakikat Gereja. Gereja adalah persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan di dalam Yesus telah dibenarkan kendati tetap merupakan manusia berdosa, yang kesemuanya disambut dan diterima manusia melalui iman. Gereja adalah tempat yang bisa ditemukan dimana saja, asalkan di sana Firman atau injil yang murni diberitakan dan sakramen yang murni dilayankan (Baptisan dan Perjamuan Kudus).
- Tata Gereja dan jabatan. Menurut Calvin, di dalam gereja ada empat jabatan, yakni: gembala/pendeta, pengajar, penatua, dan syamas/diaken. Khusus mengenai “pengajar”, jabatan ini mencakup semua fungsionaris gereja yang terlibat dalam tugas pengajaran yang berhubungan dengan iman kristiani, mulai dari guru agama (di sekolah), guru katekisasi, sampai dengan dosen-dosen teologi. Sedangkan mengenai Tata Gereja, gereja-gereja beraliran Calvinis pada umumnya menganut sistem Presbyterial-Synodal. Sistem ini disebut Presbyterial-Synodal oleh karena semua keputusan jemaat diambil pada tingkat presbyterium (majelis para penatua, termasuk pendeta sebagai presbyter yang berkhotbah dan mengajar), sedangkan perkara-perkara yang menyangkut kepentingan seluruh gereja diputuskan pada tingkat sinode, yang dalam hal ini diwakili oleh wakil-wakil presbyterium dari setiap jemaat.

Jalan Masuk dan Perkembangannya di Indonesia
Sama seperti aliran Lutheran, aliran Calvinis ini masuk ke Indonesia pertama kali bersamaan dengan datangnya orang-orang Belanda/VOC ke Indonesia pada permulaan abad ke-17. Sebagian besar pegawai VOC adalah orang-orang Kristen Protestan-Calvinis, dan mereka inilah yang pertama kali mendirikan Gereja yang beraliran Calvinis di Indonesia. Di kemudian hari (mulai abad ke-18), aliran gereja ini masuk dengan lebih deras lagi ke Indonesia berbarengan dengan datangnya zending-zending Protestan dari Negeri Belanda. Hasil dari pekerjaan zending-zending ini adalah berdirinya sejumlah besar gereja di Indonesia (khususnya di Indonesia bagian Timur) yang menyatakan diri beraliran Calvinis. Dari segi kuantitas, aliran Calvinis ini memiliki penganut terbesar di antara gereja-gereja di Indonesia. Paling tidak hal ini dapat dilihat dari jumlah gereja anggota PGI. Di antara 68 gereja anggota PGI (sampai dengan 1993), sekurang-kurangnya separuh dari mereka mengaku sebagai Calvinis. Beberapa di antaranya yang dapat dicatat di sini ialah: GPM, GMIM, GMIT, GPIB, GBKP, GKI (Jabar, Jateng, Jatim), GKP, GKJ, GKJW, GKPB, GKS, GMIST, GKST, Gereja Toraja, GTM, GKSS, GEPSULTRA, GMIH.

3. BAPTIS
Awal Kemunculannya

A
da tiga versi tentang sejarah awal kemunculan gereja/aliran Baptis ini. Versi pertama mengatakan bahwa aliran ini bermula pada pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan. Versi kedua mengatakan bahwa aliran ini berakar/bermula pada gerakan Anabaptis yang muncul di Munster, Jerman, pada tahun 1522. Sedangkan versi ketiga mengatakan bahwa aliran ini bermula pada awal abad ke-17, ketika John Smyth berupaya mengembalikan Gereja Anglican di Inggris kepada model gereja zaman Perjanjian Baru. Pendapat terakhir inilah yang diakui para sejarahwan masa kini. Jika kita sependapat dengan pendapat ketiga (terakhir) di atas, ini berarti bahwa aliran Baptis muncul di Inggris pada awal abad ke-17, sebagai koreksi terhadap Gereja Anglican. Gereja Anglican di Inggris ini dapat disebut sebagai Gereja Negara, oleh karena Raja/Ratu Inggris adalah kepala Gereja.
Pokok-pokok Penting Ajarannya
Gereja Baptis sering disebut sebagai gereja yang menganut teologi Non Creedal. Kendati demikian ada beberapa pokok ajarannya yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Gereja dipahami sebagai persekutuan dari pribadi-pribadi yang telah diselamatkan Allah melalui pengorbanan dan penebusan Kristus. Orang atau jiwa yang sudah bertobat dibaptis dengan cara diselamkan, merekalah yang layak menjadi anggota-anggota gereja.
- Kemerdekaan setiap jemaat merupakan perwujudan dari gereja yang sejati. Setiap jemaat lokal adalah badan yang otonom dan harus diselenggarakan secara demokratis di bawah tuntunan Roh Kudus dan pengajaran Yesus Kristus. Gereja tidak boleh tunduk pada perintah badan atau organisasi keagamaan manapun, tetapi hanya tunduk pada Yesus Kristus, yang adalah kepala setiap jemaat.
- Gereja harus terpisah dari negara dan harus ada jaminan kebebasan beragama bagi setiap pribadi. Gereja atau jemaat tidak tunduk pada pemerintah negara. Negara tidak boleh mencampuri urusan gereja, dan sebaliknya gereja juga tidak boleh mencampuri urusan negara, karena masing-masing punya wilayah pelayanan (dan kekuasaan). Karena itu negara tidak boleh menggunakan kekuasaan menindak kelompok agama tertentu karena dianggap menyimpang atau sesat.
Jalan Masuk dan Perkembangannya di Indonesia
Jika kita mengacu pada kedatangan penginjil Baptis yang pertama ke Indonesia, maka tahun 1814 dapat disebut sebagai awal masuknya aliran Baptis ke Indonesia. Sebab pada tahun tersebut Jebes Carey, penginjil dari Baptist Missionary Society (lembaga pekabaran Injil Baptis yang sangat besar di Inggris), diutus untuk bekerja di Maluku. Selain Jabes Carey, pada kurun waktu 1813-1857 ada sekitar 20 penginjil Baptis yang bekerja di Indonesia. Yang patut dicatat adalah dua penginjil pertama di Tanah Batak, Richard Burton dan Nathaniel Ward. Mereka masuk ke sana pada tahun 1824, ketika Inggris masih berkuasa atas pulau Sumatera. Tetapi mereka tidak berhasil menobatkan satu orang Batak pun. Hasil yang cukup besar justru terjadi di Irian Jaya/Papua, dimana The Australian Baptist Missionary Society mengabarkan Injil sejak tahun1938. Selain itu atas usaha Indonesian Baptist Mission yang bekerja di Pulau Jawa sejak tahun 1951, di pulau tersebut (juga di Sumatera) berkembang beberapa jemaat Baptis. Di beberapa daerah lain, seperti di Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara, juga terdapat jemaat-jemaat Baptis. Perlu dicatat pula bahwa di Indonesia dewasa ini terdapat enam organisasi gereja-gereja Baptis, yakni: Persekutuan Gereja-gereja Baptis Irian Jaya (PGBIJ), Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GBI), Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI), Kerapatan Gereja Baptis Indonesia (KGBI), Gereja Baptis Independent di Indonesia (GBII), dan Sinode Gereja Kristen Baptis Jakarta.

4. METHODIS
Awal Kemunculannya

A
liran ini muncul di Inggris pada pertengahan abad ke-18 sebagai akibat dari pengaruh gerakan Pietisme (kesucian hidup) yang mulai merebak di Eropa Barat sejak abad ke-17. Salah seorang anak pendeta dari Gereja Anglican, John Wesley (yang juga pendeta), tertarik pada gerakan Pietisme ini. Bersama adiknya, Charles Wesley, mereka mendirikan Holy Club yang bertujuan memperkaya kehidupan rohani anggotanya dengan jalan mengadakan penelaan Alkitab. Perkumpulan ini sangat terkenal dengan disiplin dan “metode” kerjanya yang sangat ketat. Dari sinilah lahir istilah “Methodis”, yang semula merupakan cemohan terhadap warga perkumpulan ini. Sebenarnya John Wesley dan para pengikutnya tidak bermaksud untuk mendirikan gereja tersendiri terpisah dari Gereja Anglican. Tetapi karena mereka ditentang dengan keras oleh pimpinan Gereja Anglican, pada tahun 1740-an mereka mulai memprakarsai pembentukan persekutuan (gereja) tersendiri.
Pokok-pokok Penting Ajarannya
- Kelahiran Kembali (lahir baru): Ini adalah tindakan Allah dan melaluinya seseorang dibawa masuk ke dalam kerajaanNya dan mengalami perubahan di dalam hati. Hanya dengan mengalami kelahiran kembali inilah seseorang bisa menjadi Kristen yang sungguh-sungguh.
- Kesaksian Roh: “Yang kumaksud dengan kesaksian Roh”, kata Wesley, “adalah kesan batiniah di dalam jiwa, yang dengan Roh Allah segera dan langsung bersaksi kepada rohku bahwa aku adalah anak Allah; bahwa Yesus Kristus mengasihiku dan telah memberi diriNya bagiku; bahwa semua dosaku telah dihanyutkan, dan aku pun diperdamaikan dengan Allah”.
- Kesucian dan Kesempurnaan Hidup Kristiani: Kendati sangat menekankan kesucian dan kesempurnaan hidup, Wesley dan umat Metodis cukup moderat tentang hal ini. Di satu pihak kesempurnaan itu merupakan tujuan yang diupayakan pencapaiannya di dalam kehidupan masa kini, tetapi di lain pihak merupakan upaya tidak pernah berakhir. Dengan begitu kesempurnaan itu harus dikejar dan diupayakan terus menerus sepanjang hidup, dan lebih dititikberatkan pada kesempurnaan motivasi dan kerinduan.

Jalan Masuk dan Perkembangannya di Indonesia
Misi Metodis sebenarnya telah masuk ke Indonesia sejak tahun 1870-an, dari Singapura dan Malaya. Tetapi baru pada tahun 1905 misi ini bekerja dengan lebih nyata, terutama di Jawa dan Sumatera, dan menghasilkan sejumlah jemaat. Dewasa ini pengikut Gereja/aliran Metodis kebanyakan terdapat di Sumatera, dan karena itu aktivitas Metodis dapat dikatakan terkonsentrasi pula di wilayah tersebut. Jemaat-jemaat yang berhasil ditumbuhkan di Sumatera kemudian menjelma menjadi Gereja Methodist Indonesia (GMI), yang menetapkan otonominya sejak 9 Agustus 1964.

5. PENTAKOSTAL
Awal Kemunculannya

G
erakan/aliran Pentakostal ini muncul di Amerika Serikat pada awal abad ke-20, sebagai lanjutan dari suatu gerakan yang mendahuluinya, yakni Holiness Movement (Gerakan Kesucian) yang muncul di Amerika Serikat pada dasawarsa 1830-an. Gerakan ini muncul terutama dalam Gereja Metodis dan Baptis. Ada dua versi/pendapat tentang awal kemunculan gerakan/aliran Pentakostal. Versi pertama mengatakan bahwa awal kemunculan Pentakostal adalah tanggal 1 Januari 1910 di kota Topeka, Amerika Serikat, oleh karena pada tanggal tersebut Agnes N. Ozman (salah seorang murid Sekolah Alkitab Bethel) memperoleh Baptisan Roh disertai dengan bukti berbahasa lidah, setelah Pdt. Charles F.Praham menumpangkan tangan ke atas kepalanya. Sementara versi kedua mengatakan bahwa awal kemunculan Pentakostal adalah pada tanggal 9 April 1906 di kota Los Angeles, oleh karena pada tanggal tersebut Roh Kudus turun dan terdengar bahasa lidah di kawasan pantai barat negeri itu, setelah tiga hari berturut-turut Pdt. William J. Seymour (seorang pendeta kulit hitam) berkhotbah di Los Angeles

Pokok-pokok Penting Ajarannya
- Baptisan terdiri atas dua jenis, yakni Baptisan air dan Baptisan Roh (dan api). Baptisan air, yakni lambang kematian dan penguburan kemanusiaan yang lama, dengan cara menyelamkan ke dalam air orang yang sudah menyatakan pertobatan dan percaya sungguh-sungguh bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamatnya. Dengan itu tubuhnya yang berdosa telah dibersihkan, sedangkan hati dan batinnya telah diperciki dan disucikan oleh darah Kristus. Sedangkan tentang Baptisan Roh (dan api), ini dijanjikan oleh Allah Bapa sesuai dengan perintah Tuhan Yesus Kristus. Dengan Baptisan ini orang yang menerimanya beroleh kuasa untuk hidup dan pelayanannya, dikokohkan karunia-karunia dan penggunaannya dalam karya pelayanan. Pengalaman ajaib ini merupakan bentuk yang nyata dan kelanjutan dari pengalaman kelahiran baru.
- Berbahasa lidah: Baptisan atas orang-orang percaya di dalam Roh Kudus diawali dan disaksikan oleh tanda lahiriah berupa berbicara dalam bahasa lidah, sebagaimana kemampuan yang diberikan Allah kepada para rasul (Kis.2:4). Berbahasa lidah dalam nats ini pada hakikatnya sama dengan karunia lidah dalam I Korintus 12:4-10, 28, tetapi berbeda dalam maksud dan penggunaannya.
- Penyembuhan ilahi (penyembuhan rohani) merupakan salah satu dari karunia Roh yang pada prinsipnya diberikan kepada semua orang percaya, tetapi dalam prakteknya hanya diperoleh orang-orang tertentu.

Jalan Masuk dan Perkembangannya di Indonesia
Gerakan/aliran Pentakostal pada mulanya masuk ke beberapa tempat di Indonesia (Temanggung-Jateng, Cepu, Surabaya, dan Bandung) pada waktu yang kira-kira sama, sekitar 1919-1923. Yang membawa dan menyebar-luaskannya sebagian adalah para penginjil professional dan sebagian lagi warga gereja yang tak kalah besar dalam menyaksikan keyakinan dan ajaran gerejanya. Mereka berasal dari Inggris, Belanda, dan (belakangan) Amerika. Selain aliran Calvinis, Pentakostal dapat disebut sebagai aliran gereja yang pengikutnya sangat besar di Indonesia. Di Indonesia dewasa ini tumbuh beraneka ragam organisasi gereja Pentakostal. Yang terbesar di antaranya adalah Gereja Pentakosta di Indonesia (GpdI).
Perlu dicatat pula bahwa sejak akhir dasawarsa 1950-an sekurang-kurangnya delapan gereja-gereja Pentakostal menjadi anggota DGI/PGI, antara lain: Gereja Isa Alamasih (GIA), Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS), Gereja Gerakan Pentakosta (GGP), Gereja Bethel di Indonesia (GBI), dan Gereja Tuhan di Indonesia (GTdI).






6. KHARISMATIK
Awal kemunculannya

G
erakan/aliran Kharismatik dikenal juga dengan nama “Gerakan Pentakostal Baru”. Dengan demikian jelaslah bahwa gerakan Kharismatik berpangkal pada gerakan Pentakostal. Ciri utama yang menunjukkan bahwa gerakan Kharismatik berpangkal dan mirip dengan gerakan Pentakostal ialah, keduanya memberi tekanan pada “Baptisan Roh” dan “Penyembuhan Ilahi). Cikal bakal Gerakan Kharismatik ini adalah sebuah organisasi para pengusaha Kristen yang bernama The Full Gospel Business Men’s Fellowship (FGBMF), yang dibentuk oleh Demos Shakarian, seorang milyuner di kota California, Amerika Serikat. Sejak semula kalangan FGBMF sudah menggunakan nama “Persekutuan Kharismatik” untuk pertemuan-pertemuan mereka. Suatu peristiwa yang sering diacu sebagai awal kemunculan gerakan Kharismatik ini ialah peristiwa yang terjadi di lingkungan Gereja Episkopal di sekitar kota Los Angeles-California, pada tahun 1959. Dalam peristiwa tersebut sepasang suami-istri yang masih muda, John dan Joan Baker, menerima Baptisan Roh disertai tanda berbahasa lidah, setelah bersentuhan dengan kalangan Pentakostal. Segera menyusul 10 orang lagi, lalu mereka berhimpun mengadakan kebaktian sendiri. Peristiwa ini (Baptisan Roh) kemudian dialami pula oleh jemaat-jemaat Episkopal di sekitarnya, dan mengakibatkan api kharismatik menyulut kobaran di mana-mana.

Pokok-pokok Penting Ajarannya
- Pujian. Hasil pertama dari kedatangan Roh Kudus lewat Baptisan Roh adalah luapan pujian dari lubuk hati orang percaya. Hasilnya, orang percaya memiliki kemampuan baru memuliakan Allah, sebagaimana nampak dalam lagu-lagu pujian Kharismatik yang spontan dan - pada sebagian - dilambangkan oleh pemberian karunia berbahasa lidah.
- Penginjilan. Kedatangan Roh Kudus melalui Baptisan Roh memimpin kepada penginjilan. Bagi sebagian orang hal ini mendorong mereka untuk menginjili lebih efektif lagi, sedangkan bagi sebagian orang yang lain merupakan dorongan untuk menginjili untuk pertama kalinya. Sama seperti orang-orang Kristen yang dibaptis dalam Roh menerima kemampuan baru untuk berbicara secara bebas kepada Allah di dalam pujian, begitu juga mereka memiliki kemampuan dan keberanian baru untuk berbicara kepada orang lain tentang Tuhan.
- Karunia-karunia Roh. Hal yang paling banyak disebut sebagai ciri Kharismatik adalah karunia-karunia Roh yang didaftarkan antara lain dalam I Korintus 12:8-10. Kendati daftar ini memuat sembilan charismata, namun karunia yang paling utama dan paling banyak dibicarakan adalah glossolalia (bahasa lidah), nubuat dan penyembuhan.
- Kuasa Rohani. Unsur ini merangkumi seluruh aspek pandangan dan praktek gerakan Kharismatik. Kuasa Rohani yang mendampingi Baptisan Roh mewujud-nyata dalam kemampuan memuji Allah, menginjili, mengusir dan mengalahkan si jahat, serta mempraktekkan karunia-karunia Roh.

Jalan Masuk dan Perkembangannya di Indonesia
Gerakan/aliran Kharismatik pertama kali masuk ke Indonesia pada bagian kedua tahun 1960-an melalui penginjil-penginjil dari Amerika Serikat dan Eropa. Dalam waktu sangat singkat gerakan ini berkembang dengan sangat pesat di Indonesia, sambil “menggerogoti” sebagian besar warga gereja “arus utama”. Dewasa ini hampir di seluruh wilayah Indonesia gerakan/aliran ini memiliki pengaruh yang sangat besar, terutama di kalangan pemuda/mahasiswa. Selain karena semangat yang luar biasa dari para penginjilnya, “keunggulan” aliran ini terletak pada pola peribadahannya yang sangat memikat, yang ditunjang oleh musik yang ditata dengan sangat apik.

7. INJILI (EVANGELICAL)
Awal Kemunculannya

S
ama seperti beberapa gerakan/aliran yang telah diuraikan di depan, sulit ditentukan dengan tepat kapan sebenarnya awal kelahiran/kemunculan gerakan/aliran Injili ini. Tetapi sebagian besar peneliti berpendapat bahwa aliran ini dapat dipahami dengan melihat pada “Fundamentalisme”, karena aliran ini (Injili) secara langsung melanjutkan dan mengembangkan semangat dan paham Fundamentalisme.
Fundamentalisme adalah suatu gerakan yang muncul di Amerika Serikat pada awal abad ke-20 dan bersifat antar-denominasi dan antar-konfesi. Fundamentalisme ini dicirikan oleh pembelaan dan kesetiaan yang teguh dan militan atas seperangkat dasar-dasar iman (fundamental of faith) terutama kelima butir berikut: 1) pengilhaman dan kemutlakan Alkitab; 2) keilahian Kristus dan kelahirannya dari anak dara; 3) kematian Kristus sebagai ganti dan penebus manusia; 4) kebangkitanNya secara jasmani; dan 5) kedatanganNya kedua kali. Di samping itu, gerakan ini ditandai pula oleh “mentalitas separatis”, yakni membenarkan pemisahan secara religius dari siapa saja yang tidak menyatakan bersedia menerima dasar-dasar iman di atas.
Akan tetapi perlu dicatat bahwa kendati aliran Injili adalah kelanjutan dari Fundamentalisme, harus ditegaskan bahwa keduanya tidak persis sama. Aliran Injili, sebagaimana dikonotasikan oleh namanya, merupakan gerakan yang lebih menganut sikap konstruktif ketimbang defensif-separatis seperti tersirat pada istilah fundamentalis.
Kalau demikian kapan gerakan/aliran Injili ini pertama kali muncul? Jawabannya ialah pada pertengahan abad ke-20, di Amerika Serikat. Tokoh yang bisa disebut dengan hormat sebagai organisator gerakan/aliran Injili ini ialah Harold Ockenga. Dalam rangka menanggalkan kecenderungan separatis pada fundamentalisme, ia menegaskan bahwa tugas kaum Injili haruslah “merembesi” (gereja dan masyarakat) ketimbang memisahkan diri (dari padanya).

Pokok-pokok Penting Ajarannya
- Kitab Suci (Alkitab) adalah bagian hakiki dan rekaman yang patut dipercaya tentang penyingkapan diri yang ilahi. Semua kitab di dalam Perjanjian Lama dan Baru, yang diberikan oleh pengilhaman ilahi, adalah Firman Allah yang tertulis, satu-satunya ajaran yang mutlak bagi iman dan kelakuan.
- Roh yang bekerja di dalam kita: Roh Kudus, melalui proklamasi Injil, membarui hati kita, membujuk kita agar bertobat dari dosa-dosa kita dan mengakui Yesus sebagai Tuhan. Oleh Roh yang sama kita dipimpin untuk percaya pada belas kasihan ilahi, yang olehnya kita diampuni dari semua dosa kita, dibenarkan oleh iman semata-mata melalui jasa Kristus Juruselamat kita, dan terjamin mendapat anugerah Cuma-Cuma berupa kehidupan kekal.
- Gereja yang di dalamnya kita melayani: Gereja diundang oleh Kristus untuk mempersembahkan ibadah yang berkenan kepada Allah dan melayani Dia dengan memberitakan Injil dan menjadikan segala bangsa muridNya, dengan menggembalakan kawanan domba itu melalui pelayanan firman dan sakramen serta perawatan pastoral sehari-hari, dengan memperjuangkan keadilan sosial dan menyembuhkan duka dan derita manusia.

Jalan Masuk dan Perkembangannya di Indonesia
Gerakan/aliran ini sejak tahun 1950-an telah hadir di Indonesia melalui Amerika Serikat dan Eropa (terutama Jerman dan Belanda). Salah satu tonggak yang menandai kehadiran gerakan/aliran ini di Indonesia adalah Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil di Indonesia (YPPII) yang didirikan pada tahun 1961 menyusul Institut Injili Indonesia(I.3) yang didirikan di Batu-Malang pada tahun 1959. Salah satu tonggak lain yang juga patut disebut adalah Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), juga di kota Malang.
Patut dicatat bahwa sama seperti gerakan/aliran Kharismatik, gerakan/aliran Injili ini mengalami perkembangan yang sangat pesat di hampir seluruh wilayah Indonesia. Semula gerakan/aliran ini tidak bermaksud mendirikan organisasi gereja yang baru di Indonesia, melainkan hendak membawa gereja-gereja yang ada kepada pembaruan, atau kembali kepada ajaran yang benar, yaitu yang Injili. Tetapi dalam kenyataannya sejak 1960-an telah berdiri sejumlah gereja yang baru, yang secara gamblang memakai istilah Injili pada nama yang digunakan, ataupun mengaku diri sebagai bagian dari gerakan atau gereja yang Injili. Dan belakangan ini gereja-gereja beraliran Injili membentuk sebuah wadah perhimpunan yang bernama Persekutuan Injili Indonesia (PII).



8. ADVENTIS
Awal Kemunculannya

A
liran ini muncul pertama kali di Amerika Serikat pada awal abad ke-19. Aliran ini muncul di tengah-tengah kegundahan masyarakat Amerika Serikat baik karena pertikaian sosial maupun karena depresi ekonomi dan keuangan. Di tengah-tengah kegundahan masyarakat Amerika Serikat ini muncul kelompok-kelompok dari kaum “Injili” yang sangat bersemangat dalam mengadakan penelaahan Alkitab. Bagian-bagian Alkitab yang sangat digandrungi untuk ditelaah adalah bagian-bagian Alkitab yang berbicara tentang Advent Kedua (parousia), yakni kedatangan Tuhan Yesus kedua kali, dan eskaton (akhir zaman). Banyak di antara mereka yang mengambil bagian dalan penelaan Alkitab ini yakin bahwa kedatangan kembali Kristus dan Hari Penghakiman akan segera tiba, dan milenium (Kerajaan Seribu Tahun) pun akan dimulai. Ada beberapa orang tokoh yang dapat disebut sebagai pelopor/pendiri aliran Adventis ini. Salah seorang di antara mereka yang sangat perlu dicatat di sini adalah William Miller. Penelitiannya atas Alkitab (terutama Dan.8:14) membawanya pada kesimpulan bahwa Kristus akan datang kembali pada tahun 1843, atau selambat-lambatnya tahun 1844. Kendati ramalan Miller ini (bahkan beberapa kali) tidak tepat, sebagian pengikutnya tetap setia, dan mereka inilah yang pertama kali membentuk Gereja Adventis.

Pokok-pokok Penting Ajarannya
- Kedatangan Kristus kedua kali adalah pengharapan gereja yang penuh berkat, mahapuncak dari Injil. Kedatangan Juruselamat akan berlangsung secara nyata, pribadi, kelihatan, dan seluas dunia. Ketika Ia kembali orang-orang benar yang mati akan dibangkitkan, dan bersama dengan orang-orang benar yang masih hidup akan dimuliakan dan dibawa ke Sorga, tetapi orang-orang fasik akan mati. Pemenuhan yang hampir tuntas dari kebanyakan nubuat, bersama dengan keadaan dunia masa kini, mengisyaratkan bahwa kedatangan Kristus segera terjadi. Saat berlangsungnya peristiwa itu belum disingkapkan, dan karena itu kita diimbau agar siap sedia di segala waktu.
- Milenium adalah seribu tahun pemerintahan Kristus dengan orang-orang sucinya di sorga di antara kebangkitan pertama dan kedua. Pada masa ini orang-orang jahat yang sudah mati akan dihakimi; bumi akan sama sekali sunyi sepi, tidak ada manusia hidup yang menghuni, melainkan diduduki oleh iblis dan malaikat-malaikatnya. Pada akhir masa itu Kristus bersama orang-orang sucinya dan kota suci akan turun dari sorga ke bumi. Lalu orang-orang fasik yang telah mati akan dibangkitkan, dan bersama iblis dan malaikat-malaikatnya akan mengitari kota itu, tetapi api Allah akan menelan mereka dan membersihkan bumi. Jadi alam semesta akan dibebaskan dari dosa dan para pendosa untuk selama-lamanya.

Jalan Masuk dan Perkembangannya di Indonesia
Sejak tahun 1900 aliran ini telah hadir di Indonesia berbarengan dengan datangnya Ralph W. Munson di Padang, dari Singapura. Kemudian menyusul sejumlah misionaris Adventis lainnya dari Australia, Belanda dan Amerika.
Kendati aliran ini kurang berkembang dengan pesat (dibandingkan beberapa aliran lain) di Indonesia, ia telah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa aktifitasnya yang sangat terkenal di Indonesia antara lain lembaga-lembaga pendidikannya (dari TK hingga Universitas), Rumah-rumah Sakit, dan penerbitan majalah (terutama majalah kesehatan).

9. SAKSI JEHOVA
(Catatan: sebenarnya Saksi Jehova adalah sebuah Sekte yang bukan aliran Protestan dan tidak memiliki dasar pengakuan apostolik bersama dengan umat Kristen. Namun karena Sekte tersebut di Indonesia sering “dipaksa” untuk dikotakkan sebagai Gereja Kristen/ Protestan, maka akan dibahas di sini secara singkat.)

Awal Kemunculannya
S
aksi Jehova berawal dari sebuah organisasi yang bernama Zion’s Watch Tower Bible and Tract Society, yang didirikan di Amerika Serikat pada tahun 1881. Di kemudian hari organisasi ini berubah nama menjadi Watch Tower Society. Pendiri organisasi ini adalah Charles Taze Russel yang berlatar-belakang Presbyterian Skotland-Irlandia. Tetapi sejak tahun 1870 ia bergabung dengan sebuah kelompok yang bercorak Adventis.
Sejak semula Russel berkata bahwa sebenarnya ia tidak bermaksud mendirikan gereja ataupun organisasi keagamaan baru, melainkan hanya sekedar “penerbitan” yang menyebarkan produknya, teutama lewat pos. Tetapi kemudian “agama pos” ini, demikian Russel, telah berkembang menjadi “organisasi Allah, dan satu-satunya bahtera keselamatan (sampai sekarang kaum Saksi Jehova selalu berkata bahwa organisasi mereka bukan gereja).
Pokok-pokok Penting Ajarannya
- Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus: Allah Bapa dan Putera Allah (Yesus Kristus) adalah dua pribadi dan Roh yang secara hakiki berbeda dan terpisah satu sama lain. Allah Bapa, Jehova, sang Pencipta, lebih tinggi dari sang Putera. Yesus Kristus adalah saksi dan pelayan utama dari Jehova, dan setiap saksi (warga Saksi Jehova) adalah pelayan yang mengikuti teladan Yesus Kristus. Roh Kudus bukanlah pribadi ke-Allah-an yang tersendiri, melainkan kuasa, daya atau pengaruh dari Allah Bapa.
- Kedatangan Kristus kedua kali dan Milenium: Kedatangan Kristus kedua kali ke bumi akan didahului oleh Perang Harmagedon di bumi. Tetapi peristiwa itu didahului oleh perang antara Mikhael dan iblis. Setelah kalah, iblis “sang naga” dijatuhkan dan dipenjarakan di bumi. Setelah itu berlangsunglah Kerajaan Seribu Tahun di bumi, alias “Zaman Akhir Dunia Ini”, di mana Kristus memerintah sebagai raja, didampingi 144.000 orang-orang pilihan yang nantinya mewarisi sorga.
- Kebangkitan dan Penghakiman: Kendati Yesus bangkit dari kubur dan tampil seperti seorang manusia, bentuk kebangkitanNya yang sebenarnya adalah seperti Jehova, yaitu Roh, yang bukan duniawi atau manusiawi atau sesuatu apapun yang memiliki bentuk tertentu. Tentang kematian, kebangkitan dan penghakiman atas manusia dikemukakan bahwa roh dan tubuh manusia tidak pernah terpisah; karena itu jiwa manusia tidur setelah ia mati. Pada saat penghakiman umat manusia tidak serempak dihakimi. Mereka yang menjalani kehidupan yang tidak benar di bumi dan telah berdosa terhadap Roh Kudus telah dihakimi sebelum Hari Penghakiman Agung. Mereka ini berada di luar pembaruan dan perbaikan dan tidak akan berdiri di hadapan Kristus pada Hari penghakiman agung, melainkan tertidur terus selama-lamanya.

Jalan Masuk dan Perkembangannya di Indonesia
Tidak diketahui dengan pasti kapan aliran ini pertama kali masuk ke Indonesia dan dari mana ia datang. Yang pasti ialah sejak dasawarsa 1960-an aliran ini telah sangat populer di Indonesia. Terutama pada dasawarsa 1970-an aliran ini sempat sangat populer, dalam arti berhasil meraih banyak peminat dan anggota dan melakukan banyak kegiatan yang menarik perhatian masyarakat luas.
Yang membuat aliran ini kemudian “lebih terkenal” lagi di Indonesia ialah, pada tahun 1976 aliran ini secara resmi dilarang oleh pemerintah untuk berkegiatan di Indonesia, dengan alasan bahwa aliran ini dinilai - oleh pemerintah, bersama pimpinan organisasi agama atau gereja-gereja resmi - telah menyebarluaskan ajaran sesat yang menimbulkan keresahan dan gangguan dalam masyarakat yang bisa merusak kehidupan beragama di Indonesia. Akan tetapi kendati dilarang, dalam kenyataannya penganut aliran ini tetap beroperasi di Indonesia dengan giat. Akhirnya, seiring dengan merebaknya gerakan reformasi di Indonesia, khususnya pada masa pemerintahan presiden Abdurahman Wahid, aliran ini diizinkan oleh pemerintah untuk melakukan aktivitasnya kembali di Indonesia.
Baca selengkapnya GIAFIDRISA: Sejarah Gereja